Gombloh: Suara Nyentrik yang Menggugat Zaman

Ilustrasi ini merupakan representasi digital berbasis data sejarah.

Gombloh: Suara Nyentrik yang Menggugat Zaman

1948 - 1988
Seniman & Budayawan  FiguresList.org
Di antara deretan musisi Indonesia yang lahir dari rahim pergerakan kampus dan dinamika sosial 1970–1980-an, nama Gombloh menempati posisi yang unik. Lahir dengan nama Soedjarwoto Soemarsono pada 12 Juli 1948 di Jombang, Jawa Timur, ia dikenal sebagai penyanyi dan pencipta lagu dengan gaya eksentrik, lirik puitis, sekaligus kritik sosial yang tajam. Kiprahnya tidak bisa dilepaskan dari ekosistem musik Surabaya, terutama komunitas kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), tempat ia pernah menempuh pendidikan teknik.

Gombloh mulai dikenal luas ketika bergabung dengan kelompok Lemon Trees pada akhir 1960-an. Namun namanya benar-benar mencuat saat ia bersolo karier pada dekade 1980-an. Lagu-lagunya seperti “Kebyar-Kebyar” dan “Gebyar-Gebyar” menjelma menjadi anthem nasionalisme populer yang berbeda dari lagu perjuangan konvensional. “Kebyar-Kebyar” bahkan kerap diputar dalam peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia karena liriknya yang membangkitkan semangat kebangsaan tanpa terdengar menggurui.

Ciri khas Gombloh terletak pada kemampuannya memadukan bahasa sehari-hari dengan metafora yang kuat. Ia tidak ragu menggunakan diksi sederhana, namun di balik kesederhanaan itu tersimpan kritik terhadap ketimpangan sosial, kemunafikan politik, hingga kegelisahan generasi muda. Lagu “Hong Wilaheng” misalnya, memperlihatkan sisi kontemplatifnya, sementara “Apel” dan “Selamat Pagi Indonesia” memotret realitas sosial dengan nada getir namun jenaka.

Secara musikal, aransemen karya-karya Gombloh banyak dipengaruhi folk dan pop balada, dengan penekanan pada kekuatan lirik. Vokalnya yang serak, gaya panggung nyentrik—topi khas, kacamata gelap, serta penampilan yang jauh dari standar glamor—justru menjadi identitas yang sulit ditiru. Ia tampil apa adanya, seolah ingin menegaskan bahwa substansi lebih penting daripada kemasan.

Perjalanan hidupnya tidak selalu mulus. Di tengah popularitasnya, Gombloh tetap memilih jalur independen dan tidak sepenuhnya tunduk pada selera industri. Sikap ini membuatnya dihormati sebagai seniman yang konsisten. Sejumlah media arus utama seperti Kompas dan Tempo pernah menyoroti kiprahnya sebagai bagian dari gelombang musisi kritis era Orde Baru, yang menyampaikan pesan sosial melalui simbol dan satire agar lolos dari sensor ketat saat itu.

Gombloh wafat pada 9 Januari 1988 di Surabaya dalam usia 39 tahun akibat komplikasi penyakit. Kepergiannya yang relatif muda mengejutkan banyak kalangan, namun warisan karyanya tetap hidup. “Kebyar-Kebyar” bahkan sempat diaransemen ulang oleh berbagai musisi lintas generasi, menandakan relevansinya yang tidak lekang waktu.

Dalam sejarah musik Indonesia, Gombloh bukan sekadar penyanyi dengan lagu populer. Ia adalah representasi seniman kampus yang gelisah, nasionalis yang kritis, dan penyair jalanan yang berbicara bagi rakyat kecil. Referensi mengenai kiprahnya dapat ditelusuri melalui arsip pemberitaan harian Kompas, Majalah Tempo, serta dokumentasi musik Indonesia era 1970–1980-an dan katalog rekaman Lokananta.

Lebih dari tiga dekade setelah kepergiannya, nama Gombloh tetap disebut ketika orang membicarakan musik yang berani, jujur, dan berpihak. Ia membuktikan bahwa lagu dapat menjadi medium perlawanan sekaligus perayaan, kritik sekaligus cinta pada negeri. Dan di situlah letak keabadiannya.