Ilustrasi ini merupakan representasi digital berbasis data sejarah.
Kebo Iwa: Raksasa Bali yang Gagah, Bijak, dan Gugur karena Muslihat Majapahit
Kebo Iwa bukan sekadar legenda—ia adalah simbol kekuatan, kesetiaan, dan tragedi dalam sejarah Bali. Sosoknya yang besar dan gagah hidup dalam cerita rakyat dan catatan sejarah sebagai panglima perang yang disegani, bahkan oleh Gajah Mada dari Majapahit.
Kebo Iwa, yang juga dikenal sebagai Kebo Wandira atau Kebo Taruna, adalah panglima militer dari Bali pada awal abad ke-14, di bawah pemerintahan Prabu Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten. Nama “Kebo” (kerbau) melambangkan kekuatan dan keteguhan, gelar kehormatan yang lazim digunakan di Bali dan Jawa kala itu.
Ia berasal dari desa Blahbatuh dan merupakan anak dari Panglima Rakyan Buncing. Tubuhnya digambarkan sangat besar dan kuat, dengan kemampuan luar biasa dalam seni perang dan arsitektur tradisional Bali (undagi). Ia membangun pura dan tempat suci dengan tangan sendiri, mengangkat batu-batu besar tanpa bantuan alat berat.
Dalam versi cerita rakyat, Kebo Iwa lahir sebagai anak yang rakus dan sulit dikendalikan. Namun, ia tumbuh menjadi pelindung masyarakat Bali. Salah satu kisah paling terkenal adalah keterlibatannya dalam terbentuknya Gunung dan Danau Batur. Ketika ia marah dan menggali tanah untuk mencari air, lubang besar itu menjadi Danau Batur, dan tanah yang ia lempar membentuk Gunung Batur.
Gunung Batur kini menjadi simbol spiritual dan sumber kesejahteraan bagi masyarakat Bali, dianggap sebagai tempat suci dalam ajaran Hindu.
Kebo Iwa menjadi ancaman bagi ekspansi Majapahit. Gajah Mada, yang terkenal dengan Sumpah Palapa untuk menyatukan Nusantara, menyadari bahwa Bali tidak akan tunduk selama Kebo Iwa masih hidup.
Majapahit mengirim utusan dengan dalih ingin berdamai dan membangun pura di Bali. Kebo Iwa, yang menjunjung tinggi nilai kesopanan dan persaudaraan, menerima mereka dengan tangan terbuka. Namun, ia dijebak. Saat sedang mandi di sumur yang ia gali sendiri, pasukan Majapahit menimbun sumur itu dengan batu dan tanah. Kebo Iwa pun gugur, bukan karena kalah perang, tapi karena dikhianati.
Kebo Iwa bukan hanya tokoh perang—ia adalah simbol kesetiaan, kekuatan, dan pengorbanan. Ia menunjukkan bahwa kekuatan fisik harus diimbangi dengan kebijaksanaan dan kewaspadaan. Tragedinya menjadi pelajaran tentang diplomasi, kepercayaan, dan harga diri.
Di Bali, namanya dikenang dalam berbagai bentuk: patung, cerita rakyat, dan ritual budaya. Ia dianggap sebagai pelindung spiritual dan tokoh yang berjasa dalam pembangunan Bali secara fisik dan moral.
Kebo Iwa adalah raksasa Bali yang gagah dan bijak, gugur bukan karena kelemahan, tapi karena muslihat. Ia adalah tokoh yang layak dikenang, bukan hanya sebagai legenda, tapi sebagai bagian penting dari sejarah Nusantara.