Ilustrasi ini merupakan representasi digital berbasis data sejarah.
Tak Tersorot Sejarah: Pengorbanan Amji Attak, Pahlawan Dayak di Operasi Dwikora
Amji Attak adalah seorang anggota “Ranger” dari Korps Brimob Polri (Resimen Pelopor), dikenal karena keberanian dan dedikasinya dalam mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia. Ia dilahirkan sekitar tahun 1933 di Desa Kepayang, Kecamatan Anjongan, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat — dari suku Dayak Kanayatn.
Karier militernya dimulai setelah ia mengikuti Sekolah Ranger / Pendidikan Mobile Brigade di Watukosek, Porong, Jawa Timur pada tahun 1959 (angkatan ke-2, Kompi 5995) — satu angkatan dengan tokoh senior yang kelak menjadi jenderal.
Pada masa konfrontasi Indonesia–Malaysia (periode 1963-1965), saat digelorakan Operasi Dwikora oleh pemerintah, Amji Attak dan rekan-rekan di Resimen Pelopor ditugaskan untuk melakukan operasi intelijen dan infiltrasi ke negeri tetangga.
Tugas tersebut dilaksanakan pada awal Maret 1965 — tepatnya sekitar 10 Maret 1965 — dengan keberangkatan dari Pulau Bintan menuju pantai timur Malaysia menggunakan tiga perahu nelayan.
Misi ini bukan pertempuran darat biasa — pasukan “ranger” seperti Amji Attak seharusnya spesialisasi pertempuran darat/hutan, bukan pertempuran laut. Namun ia dan timnya menerima tantangan tanpa ragu.
Persenjataan tim termasuk senapan AR-15, karabin US Carabine atau Lee Enfield, serta pelontar granat antitank jenis F5.
Pada malam pelaksanaan, tim menembus perairan Laut China Selatan. Pagi hari, saat mendekati pantai Malaysia — tepatnya di perairan — mereka dihadang oleh kapal patroli Angkatan Laut Malaysia. Lampu sorot kapal musuh menyorot perahu mereka, memaksa tim untuk bersiap dan reaksinya dipimpin langsung oleh Amji Attak.
Saat itu, kontak senjata terjadi dengan sengit. Tim Brimob menembaki kapal patroli, dan bahkan melancarkan granat antitank. Laporan menyebut bahwa tembakan dan ledakan sempat mengenai gudang amunisi kapal musuh — menyebabkan kapal AL Malaysia mengalami kerusakan berat dan mundur. Namun tidak lama kemudian bala bantuan datang, dan perahu tim diserang dengan meriam dari jarak jauh.
Dalam pertempuran yang sangat timpang itu, perahu yang membawa Amji Attak terkena tembakan meriam; hancur, dan Amji Attak bersama banyak rekan gugur di perairan Laut China Selatan.
Satu-satunya anggota tim yang selamat adalah seorang petugas bernama Roebino — yang kemudian ditawan oleh militer Malaysia dan baru dibebaskan pada 1967. Kesaksian Roebino menjadi bagian dokumentasi sejarah misi tersebut.
Pengorbanan dan keberanian Amji Attak tidak dilupakan. Sebagai penghormatan, markas Mako Brimob Kelapa Dua di Depok menamai kesatriannya sebagai “Kesatrian Amji Attak”.
Di gerbang markas tersebut juga terdapat patung yang menampilkan sosok Amji Attak (bersama rekannya Taboki Takuda), sebagai simbol penghormatan atas keberanian anggota pelopor Brimob yang rela berkorban demi kedaulatan negeri.
Kisahnya juga tertuang dalam sejumlah literatur — antara lain dalam buku Resimen Pelopor (Edisi Revisi), Pasukan Elite Yang Terlupakan oleh Anton Agus Setyawan dan Andi M Darlis, serta biografi berjudul Amji Attak Ranger Andalan Jenderal Anton Soedjarwo karya jurnalis Christina Lomon Lyons.
Beberapa tokoh, termasuk perwakilan dari Majelis Adat Dayak Nasional, bahkan mendorong agar Amji Attak diberi pengakuan setara pahlawan nasional — sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanannya dan identitasnya sebagai putra Dayak.