5 Pahlawan Nasional Indonesia yang Kisahnya Jarang Diceritakan di Buku Sekolah

Ilustrasi ini merupakan representasi digital berbasis data sejarah.

5 Pahlawan Nasional Indonesia yang Kisahnya Jarang Diceritakan di Buku Sekolah

Pahlawan nasional Indonesia tak hanya Soekarno-Hatta atau Sudirman yang sering muncul di buku sekolah. Kisah 5 tokoh di bawah ini jarang dibahas, padahal kontribusi mereka luar biasa dalam perjuangan kemerdekaan dan integrasi NKRI.

1.Frans Kaisiepo

Frans Kaisiepo (1921–1979), lahir di Biak, Papua, menjadi orang pertama yang mengibarkan bendera Merah Putih di Papua pada 31 Agustus 1945 dan menyanyikan Indonesia Raya meski wilayah masih dikuasai Belanda. Ia aktif mendirikan Partai Indonesia Merdeka, menentang rencana Belanda memisahkan Papua, serta menjadi gubernur Irian Barat (1964–1973) yang memastikan integrasi melalui diplomasi damai hingga Pepera 1969. Dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 1993, namanya diabadikan di bandara Biak dan uang Rp10.000.

2. Silas Papare

Silas Papare (1918–1978), asal Papua, lulus sekolah juru rawat dan bekerja di rumah sakit Sorong sebelum menjadi mata-mata Sekutu melawan Jepang pada 1944. Ia mendirikan Komite Indonesia Merdeka (1945) dan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII) pada 1946 untuk memperjuangkan Papua bergabung dengan RI, meski sering ditangkap Belanda dan bertemu Sam Ratulangi di pengasingan. Aktif di Front Nasional Pembebasan Irian Barat hingga Perjanjian New York 1962, ia dianugerahi Pahlawan Nasional pada 1993.

3. Tan Malaka

Tan Malaka (1897–1949), aktivis revolusioner dari Sumatera Barat, belajar di Belanda dan menjadi guru yang mendidik rakyat Semarang sebelum diasingkan karena perjuangannya. Ia mendirikan Partai Murba, menolak kompromi dengan Belanda melalui Persatuan Perjuangan, dan dikenal sebagai pemikir "Madilog" serta Bapak Republik. Dieksekusi pada 1949 karena perlawanannya terhadap pemerintah moderat, ia ditetapkan Pahlawan Nasional oleh Soekarno pada 1963.

4. Mas Isman

Mayor Jenderal TNI Mas Isman (1924–1982), lahir di Bondowoso, Jawa Timur, mendirikan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) sebagai pelajar dan aktif bertempur di Malang melawan Belanda. Pendidikannya di Purwokerto hingga Surabaya tak menghalangi perjuangannya kemerdekaan di Jawa Timur. Diangkat Pahlawan Nasional oleh Jokowi pada 5 November 2015 atas jasanya mempertahankan kemerdekaan.

5. Surastri Karma Trimurti

Surastri Karma Trimurti (1912–2008), wartawan dan guru, hadir di Proklamasi 17 Agustus 1945 bareng Fatmawati dan menjadi Menteri Buruh pertama RI (1947–1948) di era Amir Sjarifuddin. Aktif di gerakan perempuan dan pers melawan Belanda, ia menulis serta berjuang untuk hak buruh pasca-kemerdekaan. Kontribusinya diakui sebagai Pahlawan Nasional atas peran di kemerdekaan dan pembangunan awal RI.

FAQ

Siapa saja 5 Pahlawan Nasional yang jarang diceritakan?

Mereka adalah Frans Kaisiepo dari Papua yang mengibarkan bendera pertama di sana, Silas Papare sang mata-mata Sekutu, Tan Malaka pemikir revolusioner, Mas Isman pendiri TRIP pelajar, serta Surastri Karma Trimurti menteri buruh pertama.

Mengapa kisah mereka jarang muncul di buku sekolah?

Fokus kurikulum sering pada tokoh sentral seperti Soekarno-Hatta, sehingga kontribusi regional seperti integrasi Papua atau perjuangan buruh kurang dieksplorasi meski resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Kapan mereka dianugerahi gelar Pahlawan Nasional?

Frans Kaisiepo dan Silas Papare pada 1993, Tan Malaka pada 1963 oleh Soekarno, Mas Isman pada 2015 oleh Jokowi, serta SK Trimurti atas jasanya di era proklamasi.

Apa kontribusi terbesar masing-masing pahlawan?

Kaisiepo memimpin integrasi Papua via diplomasi, Papare mendirikan partai kemerdekaan Irian, Tan Malaka menolak kompromi Belanda, Isman memimpin perlawanan pelajar Jatim, dan Trimurti berjuang hak perempuan-buruh.

Bagaimana cara memperingati pahlawan ini?

Kunjungi monumen seperti Bandara Frans Kaisiepo di Biak atau pelajari biografi mereka untuk apresiasi lebih luas terhadap sejarah NKRI yang beragam.