Ilustrasi ini merupakan representasi digital berbasis data sejarah.
Tan Malaka: Bapak Republik Yang Dihapus, Dilupakan, Namun Tak Pernah Hilang
Tan Malaka adalah salah satu tokoh paling misterius, paling radikal, sekaligus paling visioner dalam sejarah Indonesia. Namanya sempat disingkirkan dari buku-buku pelajaran, tetapi gagasan dan jejak hidupnya begitu kuat hingga tak mungkin dihapus. Ia bukan hanya pejuang kemerdekaan—ia adalah pemikir besar yang jauh mendahului zamannya.
Lahir dengan nama Sutan Ibrahim di Nagari Pandan Gadang, Sumatera Barat, 1897, Tan Malaka tumbuh dalam lingkungan Minangkabau yang penuh tradisi intelektual. Sejak kecil ia dikenal jenius. Guru-gurunya melihat kemampuan berpikir kritis dan keberanian yang tidak biasa. Tan dikirim belajar ke Belanda, dan di sanalah ia mulai bersentuhan dengan ide-ide modern tentang keadilan sosial, nasionalisme, dan kebebasan.
Namun Tan Malaka bukan tipe pemikir yang duduk diam. Baginya, ide harus berakar pada perjuangan nyata. Ia kembali ke Indonesia dan menjadi guru, mendirikan sekolah yang menanamkan kesadaran kebangsaan kepada murid-muridnya. Karena keberaniannya mengkritik kolonialisme, pemerintah Belanda menganggap Tan sebagai ancaman besar. Ia ditangkap, dibuang, dan hidup dalam pengasingan—tetapi justru dari sinilah legenda Tan Malaka dimulai.
Tan Malaka menjelajah berbagai negara: Filipina, Singapura, Tiongkok, Thailand, Uni Soviet, bahkan Jerman. Ke mana pun ia pergi, namanya menjadi penggerak gerakan bawah tanah Indonesia. Ia bergerak tanpa identitas, tanpa negara, tanpa perlindungan. Ia menjadi buronan internasional, tetapi tetap mengobarkan api kemerdekaan.
Tahun 1925, ia menulis karya besar “Naar de Republiek Indonesia” atau Menuju Republik Indonesia. Buku ini visioner—sebelum tokoh mana pun berani menyampaikan secara terbuka, Tan Malaka sudah menegaskan bahwa tujuan utama bangsa adalah Republik Indonesia, bukan bentuk kerajaan atau federasi. Karena pandangan inilah ia dijuluki “Bapak Republik”.
Tan Malaka juga menulis “Madilog”, singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika. Buku ini adalah karya filsafat terbesar yang pernah dibuat seorang tokoh Indonesia pada masa penjajahan. Ia ingin rakyat Indonesia berpikir rasional, ilmiah, dan tidak terjebak takhayul. Madilog menjadi monumental karena menunjukkan kedalaman intelektual Tan yang jarang dimiliki tokoh sezamannya.
Namun hidup Tan Malaka selalu berada di antara bahaya. Setelah puluhan tahun bergerak di bawah tanah, ia akhirnya kembali ke Indonesia ketika Jepang datang. Ia ikut mendorong proklamasi dan bahkan membentuk gerakan Persatuan Perjuangan yang menuntut kemerdekaan 100% tanpa kompromi.
Tragisnya, pandangannya yang keras membuat ia sering bertentangan dengan tokoh-tokoh besar lain, termasuk pemerintah Indonesia sendiri. Tan Malaka kembali bergerak secara diam-diam hingga akhirnya ditangkap oleh pasukan yang tidak memahami siapa sebenarnya yang mereka tangkap. Pada tahun 1949, di Kediri, Tan Malaka dieksekusi secara misterius. Selama bertahun-tahun kematiannya bahkan disembunyikan, seolah-olah ia tidak pernah ada.
Namun sejarah tidak bisa selamanya menutup mata. Tan Malaka akhirnya diakui sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1963. Namanya kembali dibaca, dipelajari, dan dihormati. Banyak pemikir modern menyebut bahwa Tan Malaka adalah simbol keberanian berpikir, kebebasan, dan keteguhan hati seorang pejuang yang tidak mencari kekuasaan, melainkan kebenaran.
Tan Malaka adalah bukti bahwa pahlawan tidak selalu hidup dalam cahaya sorotan. Kadang ia berjalan sendirian, dikejar bahaya, disalahpahami—tetapi tetap berjuang demi bangsa.
Dan sekarang, namanya kembali berdiri tegak sebagai salah satu tokoh paling penting dalam sejarah Indonesia.