Ilustrasi ini merupakan representasi digital berbasis data sejarah.
Cut Nyak Dhien: Api Perlawanan dari Tanah Rencong yang Tak Pernah Padam
Cut Nyak Dhien bukan sekadar nama dalam buku sejarah—ia adalah simbol keberanian, cinta tanah air, dan keteguhan seorang perempuan Aceh yang menolak tunduk pada penjajahan. Kisahnya bukan hanya heroik, tapi juga menyentuh dan penuh makna spiritual, menjadikannya sosok yang relevan untuk generasi muda hari ini.
Cut Nyak Dhien lahir pada 12 Mei 1848 di Lampadang, Aceh Besar, dari keluarga bangsawan yang taat beragama dan patriotik. Ayahnya, Teuku Nanta Seutia, adalah seorang uleebalang yang aktif melawan Belanda. Sejak kecil, Dhien sudah dididik dalam nilai-nilai Islam, strategi perang, dan semangat perjuangan.
Pada tahun 1878, suami pertamanya, Ibrahim Lamnga, gugur dalam pertempuran melawan Belanda. Alih-alih menyerah pada kesedihan, Dhien justru bangkit dan bersumpah akan meneruskan perjuangan. Ia kemudian menikah dengan Teuku Umar, pejuang Aceh yang cerdik dan karismatik. Bersama, mereka menyusun strategi gerilya yang membuat Belanda kewalahan.
Teuku Umar sempat berpura-pura bekerja sama dengan Belanda untuk mendapatkan senjata dan logistik, lalu membelot dan menyerang mereka. Dalam semua rencana ini, Cut Nyak Dhien bukan hanya pendamping, tapi juga penasihat militer dan spiritual. Ia memimpin pasukan perempuan, mengobati luka para pejuang, dan menjaga semangat juang di tengah hutan.
Pada 1899, Teuku Umar gugur dalam pertempuran. Dhien, yang saat itu sudah tua dan menderita penyakit mata, tetap memimpin pasukan gerilya di pedalaman Meulaboh. Ia menolak menyerah meski kondisi fisiknya memburuk. Akhirnya, karena khawatir akan keselamatannya, salah satu pengikutnya melaporkan lokasi Dhien kepada Belanda.
Cut Nyak Dhien ditangkap pada 1905 dan diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat. Di sana, ia tetap dihormati oleh masyarakat setempat karena keteguhan dan kebijaksanaannya. Ia wafat pada 6 November 1908 dan dimakamkan di Sumedang, jauh dari tanah kelahirannya.
Cut Nyak Dhien diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 2 Mei 1964. Namanya diabadikan dalam berbagai institusi, jalan, dan karya seni. Tapi warisan terbesarnya adalah semangat juang yang tak kenal lelah, keberanian perempuan dalam sejarah, dan cinta yang mendalam pada tanah air dan agama.