Ilustrasi ini merupakan representasi digital berbasis data sejarah.
Herman Willem Daendels dan Jalan Raya Pos: Ambisi, Sejarah, dan Luka Rakyat
Pada tahun 1808, Herman Willem Daendels diangkat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Jawa. Ia datang dengan mandat besar dari pemerintah Belanda yang saat itu berada di bawah tekanan perang Napoleon. Tugas utamanya adalah memperkuat pertahanan kolonial di Jawa agar tidak jatuh ke tangan Inggris.
Salah satu langkah paling monumental sekaligus kontroversial yang dilakukan Daendels adalah pembangunan Jalan Raya Pos (De Grote Postweg). Jalan ini membentang dari Anyer di Banten hingga Panarukan di Jawa Timur, dengan panjang sekitar 1.000 kilometer. Tujuannya bukan sekadar memudahkan komunikasi dan transportasi, tetapi juga sebagai jalur strategis militer untuk menggerakkan pasukan dengan cepat di sepanjang Pulau Jawa.
Namun, di balik ambisi besar itu, terdapat kisah kelam. Pembangunan dilakukan dengan kerja paksa. Rakyat Jawa dipaksa menebang hutan, meratakan tanah, dan mengangkut material tanpa upah. Prosesnya berlangsung cepat dan brutal, menelan ribuan korban jiwa akibat kelelahan, penyakit, dan kondisi kerja yang keras. Bagi banyak orang, Jalan Raya Pos bukan hanya simbol modernisasi, tetapi juga simbol penderitaan.
Meski demikian, warisan Daendels tetap terasa hingga kini. Jalur yang ia bangun menjadi cikal bakal jalur Pantura (Pantai Utara Jawa), salah satu urat nadi transportasi Indonesia. Jalan ini menghubungkan kota-kota besar, memudahkan perdagangan, dan menjadi bagian penting dari sejarah infrastruktur Nusantara.
Daendels sendiri dikenal sebagai sosok keras dan otoriter. Ia membangun benteng, memperkuat Batavia, dan melakukan reformasi birokrasi kolonial. Namun, gaya kepemimpinannya yang tegas sering kali mengabaikan penderitaan rakyat. Sejarah mencatatnya sebagai tokoh yang ambisius, visioner, tetapi juga meninggalkan luka sosial yang mendalam.
Hari ini, ketika kita melintasi jalur Pantura, kita tidak hanya melihat jalan raya yang sibuk dengan kendaraan. Kita juga melintasi jejak sejarah yang penuh paradoks: sebuah proyek yang memperkuat kolonialisme sekaligus membuka jalan bagi modernisasi. Jalan Raya Pos adalah pengingat bahwa pembangunan besar sering kali menyimpan cerita pengorbanan yang tak boleh dilupakan.