Ki Hajar Dewantara: Bapak Pendidikan Nasional Indonesia

Ilustrasi ini merupakan representasi digital berbasis data sejarah.

Ki Hajar Dewantara: Bapak Pendidikan Nasional Indonesia

1889 - 1959
Nasional  FiguresList.org

Ki Hajar Dewantara lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat pada 2 Mei 1889 di Pakualaman, Yogyakarta. Ia berasal dari keluarga bangsawan keraton Pakualaman dan cucu dari Paku Alam III. Namun, di kemudian hari ia memilih meninggalkan gelarnya agar lebih dekat dengan rakyat dan menghapus jarak sosial. Sumber utama biografi ini tercatat dalam Wikipedia Indonesia dan Inggris serta referensi pendidikan nasional.

Pendidikan awalnya ditempuh di ELS (Europeesche Lagere School), kemudian melanjutkan ke STOVIA, sekolah kedokteran untuk pribumi. Namun ia tidak menyelesaikan studinya karena masalah kesehatan. Setelah itu ia aktif sebagai wartawan dan penulis di berbagai surat kabar seperti De Expres, Oetoesan Hindia, dan Kaoem Moeda. Tulisan-tulisannya banyak mengkritik ketidakadilan dan menjadi kekuatan untuk membangkitkan rasa nasionalisme di kalangan pribumi.

Dalam dunia organisasi, Soewardi bergabung dengan Boedi Oetomo, kemudian bersama Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo membentuk Indische Partij, organisasi politik pertama yang secara terbuka memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ketiganya dikenal sebagai Tiga Serangkai.

Pada tahun 1913, Soewardi menulis artikel terkenal berjudul “Als ik eens Nederlander was” (“Seandainya Aku Seorang Belanda”). Tulisan ini mengkritik keras pemerintah kolonial karena memaksa rakyat pribumi menyumbang untuk perayaan kemerdekaan Belanda. Akibat keberaniannya, ia ditangkap dan diasingkan ke Belanda. Peristiwa ini menjadi titik penting dalam kehidupannya.

Selama berada di Belanda, ia tetap aktif dalam gerakan nasional dan mendalami ilmu pendidikan modern serta gagasan pembebasan rakyat melalui pendidikan. Ia terlibat dalam organisasi pelajar Indische Vereeniging, yang kelak berkembang menjadi Perhimpunan Indonesia. Ia juga mendirikan Indonesisch Pers-bureau, lembaga pers untuk pergerakan nasional.

Sekembalinya ke Indonesia pada tahun 1919, ia mewujudkan cita-cita besarnya di bidang pendidikan. Pada 3 Juli 1922, ia mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa, sebuah sistem sekolah alternatif untuk rakyat yang sebelumnya dibatasi aksesnya oleh pemerintah kolonial. Saat mendirikan sekolah itu, ia mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara, sebagai simbol pengabdian untuk seluruh rakyat Indonesia.

Sistem pendidikan Taman Siswa menolak model kolonial yang hanya mencetak tenaga kerja rendahan. Sebaliknya, pendidikan diarahkan untuk membentuk manusia yang merdeka, berbudaya, dan bermartabat. Filosofi utama pendidikannya, yang hingga kini menjadi dasar sistem pendidikan nasional, adalah:

“Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”

Artinya:
• Ing ngarsa sung tuladha — di depan memberi teladan
• Ing madya mangun karsa — di tengah memberi dorongan
• Tut wuri handayani — dari belakang memberi dukungan

Semboyan “Tut Wuri Handayani” kini menjadi moto pendidikan nasional serta simbol resmi Kementerian Pendidikan RI.

Setelah Indonesia merdeka, Ki Hajar Dewantara dipercaya menjadi Menteri Pengajaran (Menteri Pendidikan Nasional pertama) dalam kabinet awal Republik Indonesia. Atas jasa besar dalam mencerdaskan bangsa, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres No. 305/1959. Tanggal lahirnya, 2 Mei, ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Ki Hajar Dewantara wafat pada 26 April 1959 di Yogyakarta. Meski telah tiada, gagasan dan perjuangannya tetap hidup dalam seluruh aspek pendidikan Indonesia. Taman Siswa terus berkembang dan menjadi rujukan utama pendidikan karakter di Indonesia modern.

Ki Hajar Dewantara memberikan warisan bahwa pendidikan adalah alat pembebasan, bukan sekadar proses akademik. Melalui pendidikan, bangsa Indonesia belajar berdiri tegak, berpikir merdeka, dan menjaga martabatnya. Semangatnya terus relevan hingga hari ini — ketika pendidikan kembali dihadapkan pada tantangan karakter, moral, dan kemajuan zaman.