Ilustrasi ini merupakan representasi digital berbasis data sejarah.
Laksamana Malahayati: Panglima Laut Perempuan Pertama di Dunia
Laksamana Malahayati, atau Keumalahayati, adalah salah satu tokoh besar dalam sejarah Indonesia yang berasal dari Kesultanan Aceh Darussalam. Ia lahir sekitar tahun 1550 di Aceh Besar, dari keluarga bangsawan dan militer. Ayahnya, Mahmud Syah, merupakan seorang laksamana angkatan laut Aceh, sementara kakeknya adalah Muhammad Said Syah, putra Sultan Salahuddin Syah. Latar belakang keluarga inilah yang membentuk karakter Malahayati sebagai perempuan tangguh dan berjiwa pemimpin. Ia tumbuh dalam pendidikan yang baik, termasuk pendidikan militer di akademi angkatan laut Kesultanan Aceh bernama Ma’had Baitul Maqdis, tempat ia mempelajari strategi perang laut, navigasi, dan taktik tempur.
Semangat juangnya semakin kuat ketika ia menikah dengan seorang perwira laut Aceh. Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung singkat. Pada sekitar tahun 1586, suaminya gugur dalam pertempuran melawan Portugis di Teluk Haru. Kesedihan mendalam itu justru menjadi titik balik hidupnya. Ia memohon kepada Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil untuk diberi kepercayaan menggantikan tugas suaminya dalam mempertahankan Aceh. Permintaan itu dikabulkan, dan Malahayati kemudian membentuk pasukan laut yang seluruh anggotanya terdiri dari janda prajurit yang gugur dalam perang. Pasukan ini dinamakan Inong Balee, sebuah kekuatan militer perempuan yang terlatih dan disegani, yang menurut catatan mampu menghimpun sekitar 2.000 prajurit perempuan.
Keberhasilan membentuk pasukan maritim perempuan membuat Malahayati dipercaya sebagai panglima angkatan laut Aceh. Dengan kepercayaan itu, ia menjadi perempuan pertama di dunia yang secara resmi menyandang gelar laksamana dalam konteks militer modern. Aceh pada masa itu adalah salah satu pusat maritim penting di Asia Tenggara, terutama karena posisi strategisnya di jalur pelayaran Selat Malaka yang menjadi perebutan bangsa-bangsa Eropa seperti Portugis dan Belanda. Karena kepemimpinan Malahayati, kekuatan laut Aceh menjadi sangat diperhitungkan. Benteng pertahanan untuk pasukan perempuan pun didirikan di Lamreh, Aceh Besar, yang dikenal dengan nama Benteng Inong Balee, berfungsi sebagai markas, pusat pelatihan, sekaligus pangkalan strategis untuk memantau pergerakan kapal asing.
Puncak kejayaan Malahayati terjadi pada tahun 1599 ketika ekspedisi Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman tiba di Aceh. Kedatangan tersebut mulanya beralasan diplomasi, namun perilaku De Houtman dan pasukannya dianggap menghina kedaulatan Aceh. Sultan pun memerintahkan tindakan militer, dan Malahayati memimpin langsung pertempuran di laut. Dalam duel sengit di atas dek kapal, Malahayati berhasil menewaskan Cornelis de Houtman, yang membuat Belanda kalah telak dan mundur. Peristiwa ini sangat penting karena menunjukkan bahwa Kesultanan Aceh mampu mempertahankan kontrol maritim dan mengirim pesan kuat kepada bangsa Eropa bahwa Aceh bukan wilayah yang bisa ditaklukkan begitu saja.
Selain ahli strategi perang, Malahayati juga berperan dalam diplomasi internasional. Ketika misi dagang Inggris yang dipimpin James Lancaster datang, ia menjadi tokoh yang ikut mengawal negosiasi dan menghasilkan kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan. Keterlibatannya dalam diplomasi membuat Aceh dihormati sebagai negara berdaulat yang kuat dan terorganisir.
Malahayati diperkirakan wafat sekitar tahun 1606 dalam pertempuran melawan Portugis. Ia dimakamkan di Krueng Raya, Aceh Besar, yang kini menjadi salah satu situs sejarah penting. Warisan perjuangannya tetap hidup hingga kini. Pada tahun 2017, pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional. Nama Malahayati juga diabadikan sebagai nama kapal perang TNI AL, KRI Malahayati (362), simbol penghormatan atas dedikasinya menjaga laut Nusantara.
Laksamana Malahayati bukan hanya pahlawan Aceh, tetapi tokoh dunia yang menunjukkan bahwa perempuan memiliki kemampuan untuk memimpin, berjuang, dan menentukan arah sejarah.