Nyai Ageng Serang — Srikandi Tua Yang Menantang Api Penajahan

Ilustrasi ini merupakan representasi digital berbasis data sejarah.

Nyai Ageng Serang — Srikandi Tua Yang Menantang Api Penajahan

1752 - 1828
Nasional  FiguresList.org

Ketika kita bicara tentang pahlawan perempuan Indonesia, nama Nyai Ageng Serang adalah salah satu yang sering terlupakan, padahal kisah hidupnya melebihi drama sejarah mana pun. Ia lahir sekitar tahun 1752 di Serang, sebuah daerah di Kabupaten Kulon Progo—bukan Serang Banten seperti banyak orang keliru menyangka. Nama kecilnya adalah Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edhi, cucu dari Pangeran Mangkubumi, pendiri Kasultanan Yogyakarta. Artinya sejak lahir, darah bangsawan mengalir di tubuhnya, tetapi ia memilih jalan hidup yang tidak biasa: menjadi pemimpin perang.

Nyai Ageng Serang tumbuh dalam keluarga yang memegang teguh prinsip perjuangan. Ayahnya, Pangeran Serang, adalah tokoh yang sangat aktif melawan campur tangan VOC. Ketika sang ayah wafat, kepemimpinannya diteruskan oleh Nyai Ageng Serang. Pada masa itu, perempuan hampir tidak pernah mendapat posisi sebagai panglima. Tapi ia melampaui batasan zaman—bukan dengan paksaan, tetapi karena kemampuannya yang memang luar biasa.

Salah satu kehebatannya yang paling diingat adalah kecerdasannya menyusun strategi. Nyai Ageng Serang dikenal memanfaatkan daun kelor untuk menyamarkan pasukan. Daun kelor yang bentuknya kecil-kecil itu membuat musuh sulit menebak jumlah prajuritnya. Saat prajurit bergerak cepat, musuh melihatnya seolah hanya gerakan daun—bukan pasukan bersenjata. Strategi sederhana tapi brilian ini membuat kolonial sering kelabakan.

Masuk ke masa Perang Diponegoro (1825–1830), usia Nyai Ageng Serang sudah tidak muda lagi. Bayangkan: ia berjuang dalam usia sekitar 73 tahun. Tapi semangatnya sama panasnya dengan para pemuda yang baru pertama kali mencicipi medan tempur. Ia bahkan turun langsung ke garis depan, mengobarkan semangat para prajurit muda. Sosoknya dikenal tegas, kharismatik, jauh dari gambaran perempuan rapuh yang terikat adat.

Tidak hanya memimpin strategi, Nyai Ageng Serang juga menjadi simbol perlawanan spiritual. Ia dianggap sebagai sosok yang mampu menguatkan mental pasukan, menanamkan keyakinan bahwa kemerdekaan adalah harga mati. Dalam banyak catatan lisan, para pejuang menganggap kehadirannya seperti “api yang tidak pernah padam”—meski tubuhnya menua, tetapi keberaniannya justru semakin membara.

Ketika akhirnya Belanda mulai menekan kekuasaan Kesultanan dan menangkapi para pemimpin perang, Nyai Ageng Serang tetap tidak menyerah. Ia terus menggerakkan perlawanan dari wilayah pedalaman sampai perang berakhir. Setelah usia lanjut dan kondisi kesehatan yang mulai melemah, barulah ia kembali ke Serang dan menghabiskan masa tua dengan tenang. Namun warisan perjuangannya tidak pernah benar-benar padam.

Nyai Ageng Serang wafat pada tahun 1828 dan dimakamkan di Serang. Namanya diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1974. Pengakuan itu bukan sekadar penghargaan, tetapi pengingat bahwa perjuangan tidak pernah mengenal jenis kelamin, usia, maupun kedudukan sosial. Semangatnya membuktikan bahwa kekuatan seorang perempuan bisa menjadi tulang punggung perlawanan.

Di era modern ini, kisah Nyai Ageng Serang relevan bagi siapa saja yang sering merasa “terlambat” memulai sesuatu, merasa kurang mampu, atau terkekang oleh pandangan orang lain. Ia menunjukkan bahwa keberanian bukan soal umur, tubuh, atau posisi—tetapi soal hati yang tidak mau tunduk pada ketidakadilan.

Melalui hidupnya, Nyai Ageng Serang telah meninggalkan pesan kuat:
Jika kamu memiliki keberanian dan prinsip, maka kamu bisa menjadi cahaya di tengah gelapnya penindasan.
Dan dari perempuan tua yang memimpin pasukan dengan daun kelor, kita belajar bahwa kreativitas kadang lebih berbahaya bagi penjajah daripada ribuan prajurit bersenjata.