Raden Mas Said: Pangeran Sambernyawa, Bayangan Kematian bagi VOC

Ilustrasi ini merupakan representasi digital berbasis data sejarah.

Raden Mas Said: Pangeran Sambernyawa, Bayangan Kematian bagi VOC

1725 - 1795
Nasional  FiguresList.org

Di tanah Jawa abad ke-18, ketika VOC berkuasa dengan tangan besi, muncul seorang pangeran muda yang kelak menjadi mimpi buruk penjajah. Namanya Raden Mas Said, sang pewaris darah keraton yang terbuang, namun justru menjadi salah satu panglima perang paling berbahaya dalam sejarah Nusantara. Rakyat menjulukinya Pangeran Sambernyawa—karena di medan perang, kehadirannya seperti bayangan maut bagi musuh.

Raden Mas Said lahir dari keluarga bangsawan yang sedang berada dalam konflik besar. Ayahnya, Pangeran Arya Mangkunegara, wafat saat situasi politik Mataram kacau balau, banyak intrik, dan VOC semakin memperdalam kontrol. Dalam usia sangat muda, Mas Said sudah merasakan pahitnya pengkhianatan, kehilangan, dan tekanan politik. Dari titik itulah api perlawanan mulai menyala.

Ketika beranjak dewasa, ia bergabung dengan pamannya, Pangeran Mangkubumi, yang juga melawan VOC. Dari sinilah kemampuannya terlihat: ia ahli strategi, cepat belajar, kuat secara fisik, dan memiliki karisma yang membuat pasukan rela mati untuknya. Ia mampu memimpin perang gerilya hingga VOC kewalahan. Serangan-serangan yang ia lancarkan selalu cepat, tepat, dan mematikan. Pasukan VOC menyebutnya “penyerang dari kegelapan.”

Tidak hanya mengandalkan keberanian, Raden Mas Said juga menguasai seni perang Jawa: taktik penyergapan, perhitungan medan, hingga kemampuan membaca kelemahan musuh. Dalam banyak catatan sejarah dan cerita rakyat, ia digambarkan memiliki “daya batin” yang kuat, seolah sulit ditangkap hidup-hidup. Tiga kali ia hampir tertangkap—tiga kali pula ia lolos dengan cara yang membuat VOC semakin takut.

Perang panjang Raden Mas Said berlangsung lebih dari 16 tahun, sebuah rekor perlawanan yang jarang disamai bangsawan Jawa manapun. Selama itu, ia memimpin ribuan laskar rakyat, berpindah dari hutan ke gunung, dari desa ke sungai, membangun jaringan perlawanan luas. Ketika kekuatan politik berubah, Pangeran Mangkubumi akhirnya berdamai dan menerima pembagian wilayah yang kini dikenal sebagai Kasultanan Yogyakarta. Namun Raden Mas Said memilih tetap berjuang. Baginya, perjuangan bukan sekadar perebutan tahta, melainkan pembebasan rakyat.

Namun akhirnya, diplomasi menjadi jalan tengah. Setelah perjuangan panjang, ia diangkat sebagai pemimpin wilayah baru: Kadipaten Mangkunegaran, bergelar Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara I. Ia tidak hanya membangun negara kecil yang kuat, tetapi juga menata ekonomi, pemerintahan, dan budaya. Dalam banyak catatan, ia dipandang sebagai pemimpin yang tegas namun adil, keras namun punya visi.

Gelar “Sambernyawa” bukan muncul karena ia haus darah, tetapi karena keberaniannya dalam memperjuangkan keadilan dan martabat bangsanya. Bagi rakyat, Raden Mas Said adalah simbol bahwa seorang pemimpin sejati lahir bukan dari kenyamanan istana, tetapi dari api perlawanan dan penderitaan.

Hari ini, kisah Pangeran Sambernyawa tetap hidup sebagai warisan tentang keberanian, strategi, dan ketegasan. Ia adalah bukti bahwa seorang pangeran yang terbuang bisa bangkit menjadi legenda yang mengubah sejarah.