Ilustrasi ini merupakan representasi digital berbasis data sejarah.
Raja Mongkut (Rama IV): Sang Reformis dari Siam
Raja Mongkut, atau Rama IV, adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Thailand (dulu dikenal sebagai Siam). Ia lahir pada 18 Oktober 1804 di Istana Thonburi, sebagai putra Raja Buddha Loetla Nabhalai (Rama II) dan Ratu Sri Suriyendra. Meskipun merupakan anak dari raja, Mongkut tidak langsung naik takhta setelah ayahnya wafat pada 1824. Dewan kerajaan memilih saudaranya, Rama III, karena Mongkut saat itu masih muda dan belum berpengalaman.
Keputusan tersebut membawa Mongkut ke jalan spiritual. Ia menjadi biksu selama 27 tahun, sebuah periode yang membentuk pandangan hidupnya secara mendalam. Selama masa tersebut, Mongkut mempelajari bahasa Latin, Inggris, dan ilmu pengetahuan Barat. Ia juga mendirikan Ordo Thammayut, sebuah reformasi dalam Buddhisme Thailand yang menekankan disiplin dan kemurnian ajaran.
Pada 1851, setelah wafatnya Rama III, Mongkut akhirnya dinobatkan sebagai Raja Siam. Pemerintahannya berlangsung hingga 1868 dan dikenal sebagai era pembukaan Siam terhadap dunia luar. Mongkut menyadari ancaman kolonialisme Barat dan memilih jalur diplomasi serta modernisasi untuk melindungi kedaulatan negaranya. Ia menjalin hubungan dengan Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat, serta membuka pelabuhan untuk perdagangan internasional.
Salah satu pencapaian penting Mongkut adalah penandatanganan Perjanjian Bowring dengan Inggris pada 1855. Perjanjian ini membuka perdagangan bebas dan menghapus monopoli kerajaan, sekaligus memperkenalkan sistem ekonomi baru yang lebih terbuka. Meskipun mengurangi kontrol kerajaan atas perdagangan, langkah ini dianggap strategis untuk menghindari penjajahan langsung seperti yang dialami negara tetangga.
Di bidang ilmu pengetahuan, Mongkut dikenal sebagai raja yang sangat tertarik pada astronomi. Ia memprediksi gerhana matahari total pada 18 Agustus 1868 dengan akurasi tinggi, sebuah pencapaian yang mengesankan pada masa itu. Sayangnya, saat menyaksikan gerhana tersebut di wilayah Prachuap Khiri Khan, ia tertular malaria dan wafat beberapa minggu kemudian, tepatnya pada 1 Oktober 1868.
Warisan Mongkut tidak hanya terletak pada kebijakan luar negeri dan reformasi agama, tetapi juga pada cara ia membentuk citra raja modern. Ia memperkenalkan sistem birokrasi yang lebih terstruktur, mendorong pendidikan Barat, dan membuka jalan bagi putranya, Raja Chulalongkorn (Rama V), untuk melanjutkan reformasi yang lebih luas. Di bawah pengaruh Mongkut, Thailand berhasil mempertahankan kemerdekaannya di tengah tekanan kolonialisme yang melanda Asia Tenggara .
Kisah Mongkut juga diabadikan dalam budaya populer melalui novel dan film “The King and I”, meskipun banyak aspek dalam karya tersebut tidak akurat secara historis. Namun, hal ini menunjukkan betapa besar pengaruh Mongkut hingga dikenal di dunia Barat.
Sebagai raja yang menggabungkan kebijaksanaan Timur dan pengetahuan Barat, Mongkut dikenang sebagai pemimpin visioner yang membawa Thailand ke era baru. Ia bukan hanya raja, tetapi juga seorang ilmuwan, biksu, dan diplomat ulung yang memahami pentingnya adaptasi dalam menghadapi perubahan zaman.