Ilustrasi ini merupakan representasi digital berbasis data sejarah.
Si Pitung — Jagoan Betawi Yang Jadi Legenda: Fakta, Mitos, dan Jejak Sejarahnya
Di antara banyak tokoh legenda Nusantara, nama Si Pitung selalu menonjol sebagai simbol keberanian dan keadilan. Bagi orang Betawi, Si Pitung bukan sekadar jagoan silat—ia adalah ikon perlawanan yang hidup di masa penjajahan Belanda. Namun, di balik kisah heroiknya, ada banyak fakta menarik yang jarang dibahas dan mitos yang membuatnya semakin “hidup” hingga sekarang.
Si Pitung lahir sekitar tahun 1874 di Rawa Belong, sebuah kampung di Batavia (Jakarta). Nama aslinya adalah Salihoen, namun masyarakat lebih mengenalnya sebagai Pitung—diambil dari kata pitu, yang dalam bahasa Jawa berarti tujuh, karena ia lahir sebagai anak ketujuh. Dari kecil ia sudah menunjukkan bakat luar biasa dalam pencak silat di bawah bimbingan guru besar silat, Haji Naipin. Banyak cerita mengatakan bahwa Pitung memiliki gerak tubuh yang sangat cepat, sehingga sulit tertangkap di mata lawan.
Saat dewasa, Pitung mulai melihat ketidakadilan di sekitarnya: rakyat kecil diperas oleh cukong dan aparat kolonial, sementara orang kaya hidup nyaman. Dari sinilah ia mulai dikenal sebagai “Robin Hood dari Betawi”—merampok harta tuan tanah dan pedagang kaya yang berselingkuh dengan Belanda, lalu membagikannya kepada warga miskin. Namun, tidak semua kisah tentang Pitung adalah fakta sejarah. Ada legenda yang menyebutkan bahwa ia memiliki ilmu kebal, sehingga peluru tidak mempan di tubuhnya. Banyak penduduk percaya bahwa untuk mengalahkan Pitung, Belanda harus mempelajari titik lemahnya dengan mencuri jimatnya atau menyerang saat ia lengah.
Musuh terbesar Pitung adalah Kapten Lanting, seorang polisi Belanda yang merasa diremehkan oleh aksi-aksi Pitung. Kejar-kejaran antara keduanya seperti kisah kucing dan tikus, berlangsung selama bertahun-tahun. Namun satu hal yang membuat Pitung sulit ditangkap adalah dukungan rakyat—orang-orang Betawi melindunginya, menyembunyikannya, dan menolak memberikan informasi kepada Belanda.
Akhir hidup Pitung masih menjadi misteri. Versi resmi kolonial mengatakan bahwa ia tewas ditembak pada tahun 1893 di daerah Tangerang. Tetapi banyak cerita lisan Betawi meyakini bahwa itu hanya pengganti atau tipuan, dan Pitung sebenarnya melarikan diri, hidup tersembunyi, atau bahkan menjadi jagoan di daerah lain. Mitos ini terus bertahan karena dalam tradisi Betawi, jagoan sejati tidak mati—ia hanya berpindah dari satu cerita ke cerita lain.
Hingga hari ini, Si Pitung tetap hidup dalam budaya pop: film, sinetron, komik, bahkan teater Lenong. Di setiap generasi, Pitung selalu digambarkan sesuai zamannya: kadang humoris, kadang serius, kadang mistis, tapi selalu berpihak pada rakyat kecil. Ia menjadi gambaran ideal tentang jagoan Betawi yang memegang prinsip, menghormati guru, dan tidak pernah menindas yang lemah.
Lebih dari sekadar tokoh legenda, Si Pitung adalah pengingat bahwa keberanian tidak harus selalu besar—kadang ia muncul dari hati kecil yang tidak tahan melihat ketidakadilan. Dan mungkin itulah alasan kisahnya masih terus diceritakan: karena setiap zaman butuh “Pitung”-nya sendiri.