Ilustrasi ini merupakan representasi digital berbasis data sejarah.
Sultan Hasanuddin — “Ayam Jantan Dari Timur”
Sultan Hasanuddin adalah salah satu tokoh paling berani dalam sejarah Nusantara. Ia lahir pada 12 Januari 1631 di Gowa, Sulawesi Selatan, dari keluarga bangsawan yang sejak kecil telah dibentuk dengan nilai keberanian, kepemimpinan, dan keteguhan hati. Sejak muda, Hasanuddin telah menunjukkan kecerdasan strategis dan sifat pantang menyerah—dua kualitas yang kelak menjadikannya mimpi buruk bagi VOC Belanda.
Saat usianya baru 18 tahun, Hasanuddin sudah ikut dalam urusan pemerintahan dan diplomasi. Pada 1653, ia naik takhta menjadi Raja Gowa ke-16 dengan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla’ Pangkana. Sejak saat itu, Gowa berubah menjadi kerajaan maritim yang semakin kuat dan disegani, terutama karena Hasanuddin menolak tunduk pada VOC yang ingin menguasai perdagangan rempah di wilayah timur.
VOC berusaha memaksa Gowa menandatangani perjanjian-perjanjian yang merugikan. Namun Sultan Hasanuddin adalah tipe pemimpin yang tidak mudah ditekan. Ia sangat paham bahwa jika VOC menguasai Gowa, seluruh jalur perdagangan di Nusantara bagian timur akan jatuh ke tangan asing. Maka, ia memilih jalan sulit: melawan, meski tahu bahwa kekuatan militer VOC jauh lebih besar.
Keberanian inilah yang membuatnya dijuluki “Ayam Jantan dari Timur” oleh Belanda—julukan yang menggambarkan semangat bertarungnya yang garang, cepat, dan tak kenal takut. Di bawah kepemimpinannya, pasukan Gowa membangun benteng-benteng kokoh, termasuk Benteng Somba Opu sebagai pusat pertahanan. Hasanuddin mempersiapkan pasukan laut, memperkuat armada, dan membangun aliansi dengan kerajaan-kerajaan lain.
Pertempuran terbesar meletus saat VOC menggandeng Arung Palakka, musuh politik Gowa. Perang berlangsung sengit bertahun-tahun. Meski pasukan Gowa berulang kali mengalami kekurangan suplai dan senjata, Hasanuddin tetap menolak menyerah. Ia memimpin langsung di garis depan, memberi semangat pada prajuritnya, dan menjaga moral rakyatnya agar tidak putus asa.
Pada 1667, VOC memaksa perjanjian Bongaya—perjanjian yang sangat merugikan Gowa. Namun meski perjanjian telah ditandatangani, perlawanan Sultan Hasanuddin tidak berhenti. Ia kembali membangun kekuatan dan menolak patuh. Hal ini membuat VOC harus kembali menyerbu Gowa dengan kekuatan penuh pada 1669. Pertempuran besar di Benteng Somba Opu menjadi salah satu perang paling dramatis dalam sejarah Nusantara.
Akhirnya, Hasanuddin terpaksa mundur demi menyelamatkan rakyatnya dari kehancuran total. Ia wafat pada 12 Juni 1670, dalam usia yang relatif muda—39 tahun—tetapi warisan perjuangannya tetap hidup. Keberaniannya dikenang sebagai simbol perlawanan terhadap penjajahan.
Pada 1973, pemerintah Indonesia menetapkan Sultan Hasanuddin sebagai Pahlawan Nasional. Namanya diabadikan menjadi nama bandara internasional di Makassar, patung-patung, institusi pendidikan, hingga menjadi inspirasi generasi muda.
Sultan Hasanuddin mengajarkan bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan buah dari keberanian dan pengorbanan. Meski musuh dihadapinya jauh lebih kuat, ia memilih untuk tidak tunduk. Keputusannya untuk berdiri, melawan, dan mempertahankan kehormatan Gowa menjadikannya legenda hingga hari ini.