Ilustrasi ini merupakan representasi digital berbasis data sejarah.
The Sin Nio: Pejuang Perempuan Tionghoa yang Terlupakan dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesi
Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, nama-nama pahlawan pria mendominasi narasi resmi. Namun, di balik bayang-bayang sejarah, terdapat sosok luar biasa yang nyaris terlupakan: The Sin Nio, seorang perempuan keturunan Tionghoa dari Wonosobo yang berani menembus batas gender dan etnis demi membela tanah air. Lahir pada 1 Maret 1915, The Sin Nio tumbuh dalam masyarakat yang memandang perempuan dan warga Tionghoa sebagai kelompok pinggiran. Namun semangat nasionalismenya tak terbendung.
Pada masa revolusi kemerdekaan sekitar tahun 1943, The Sin Nio bergabung dengan Kompi 1 Batalyon 4 Resimen 18 Wonosobo di bawah komando Sukarno (bukan Presiden Sukarno, melainkan tokoh militer yang kelak menjadi Duta Besar RI untuk Aljazair). Ia menjadi satu-satunya perempuan dalam kompi tersebut, sebuah anomali dalam struktur militer yang saat itu hanya memberi hak berperang kepada pria. Untuk bisa ikut bergerilya, ia menyamar sebagai laki-laki dengan nama Mochamad Moeksin. Dengan senjata seadanya seperti parang dan bambu runcing, ia ikut bertempur melawan tentara Belanda di garis depan.
Keberanian The Sin Nio tak hanya terletak pada aksinya di medan perang, tetapi juga pada tekadnya untuk diakui sebagai pejuang. Setelah kemerdekaan, ia pindah ke Jakarta dan berjuang agar jasanya diakui negara. Pada 29 Juli 1976, Mahkamah Militer Yogyakarta akhirnya mengeluarkan Surat Keputusan yang mengakui The Sin Nio sebagai pejuang kemerdekaan. Surat tersebut ditandatangani oleh Kapten CKH Soetikno SH dan Lettu CKH Drs. Soehardjo. Namun, pengakuan itu tidak disertai dengan hak pensiun atau tunjangan rumah.
Ironisnya, meski telah diakui secara resmi, The Sin Nio hidup dalam keterpurukan. Ia menggelandang di sekitar pintu air dekat Masjid Istiqlal, Jakarta. Janji pemerintah untuk memberikan tunjangan rumah tak pernah terealisasi hingga akhir hayatnya. Ia meninggal dunia pada tahun 1985 dalam kondisi miskin dan terlupakan. Kisah hidupnya menjadi cerminan bagaimana negara kerap lalai menghargai jasa pejuang yang berasal dari kelompok minoritas.
The Sin Nio bukan hanya simbol perjuangan perempuan, tetapi juga bukti kontribusi warga Tionghoa dalam kemerdekaan Indonesia. Dalam masyarakat yang sering kali meminggirkan etnis Tionghoa, keberanian The Sin Nio menunjukkan bahwa nasionalisme tak mengenal ras. Ia melampaui stigma dan diskriminasi, membuktikan bahwa cinta tanah air bisa datang dari siapa saja.
Sayangnya, nama The Sin Nio jarang disebut dalam buku sejarah resmi. Ia tidak masuk dalam daftar pahlawan nasional, dan kisahnya hanya dikenal oleh segelintir orang yang peduli pada sejarah alternatif. Padahal, keberaniannya layak disejajarkan dengan tokoh-tokoh besar seperti Cut Nyak Dien atau Martha Christina Tiahahu. Ia adalah representasi dari perjuangan yang tak tercatat, dari suara-suara yang dibungkam oleh dominasi narasi arus utama.
Kini, mengenang The Sin Nio menjadi penting bukan hanya untuk menghormati jasanya, tetapi juga untuk memperbaiki ketimpangan sejarah. Ia adalah pengingat bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah hasil kerja kolektif dari berbagai latar belakang, termasuk perempuan dan etnis minoritas. Mengangkat kisahnya ke permukaan adalah bentuk keadilan sejarah yang harus terus diperjuangkan.