Ilustrasi ini merupakan representasi digital berbasis data sejarah.
Untung Surapati: Budak Yang Menjadi Mimpi Buruk VOC
Dalam sejarah Nusantara, ada satu nama yang selalu muncul ketika kita berbicara tentang perlawanan terhadap VOC: Untung Surapati. Kisahnya bukan sekadar petualangan seorang pejuang, tetapi perjalanan luar biasa seorang anak yang lahir sebagai budak, kemudian bangkit menjadi panglima besar yang mengguncang kekuasaan kolonial di Jawa.
Surapati awalnya dikenal dengan nama Surawiraaji, seorang anak Bali yang pada masa kecilnya dijual sebagai budak karena konflik keluarga. Ia dibawa ke Batavia dan bekerja sebagai pelayan dalam sistem perbudakan VOC. Di sanalah nasib mempertemukannya dengan seseorang yang kelak mengubah hidupnya: Kapten Willem van Beber, seorang opsir VOC yang justru melihat bakat Surapati dan menjadikannya prajurit bayaran.
Namun VOC bukan tempat bagi orang yang punya harga diri. Surapati sering diperlakukan semena-mena, hingga akhirnya terjadi insiden besar ketika ia dan kelompoknya dituduh membuat onar. VOC memenjarakannya, tetapi Surapati tidak tinggal diam. Ia melarikan diri bersama 40 pengikutnya, lalu menjelma menjadi kelompok gerilya yang sangat ditakuti VOC.
Dalam pelariannya, Surapati justru semakin dikenal sebagai pemimpin yang cerdas. Ia menyerang patroli VOC, membebaskan penduduk dari pungutan sewenang-wenang, dan mengumpulkan pengikut dari berbagai daerah. Reputasinya pun meluas sampai ke istana Kerajaan Mataram—kekuatan terbesar di Jawa pada masa itu.
Ketika Surapati tiba di Mataram, ia justru disambut oleh Pangeran Puger (yang kelak menjadi Pakubuwono I). Surapati bukan sekadar tamu, tetapi sekutu. Ia diberi kedudukan dan wilayah, bahkan ditugaskan membantu Mataram melawan kelompok VOC yang mencoba menguasai wilayah kerajaan.
VOC semakin panas. Nama Surapati menjadi duri di tenggorokan mereka. Mereka mengirim pasukan besar yang dipimpin Kapten Tack untuk menangkapnya. Tetapi Surapati lebih cepat. Dalam pertempuran yang cepat dan brutal di Kartasura, Kapten Tack tewas, dan VOC mengalami pukulan besar yang menggetarkan Batavia.
Setelah insiden itu, Surapati ditetapkan sebagai musuh besar VOC. Namun bagi rakyat, ia menjadi simbol kemerdekaan. Ia memindahkan markasnya ke Pasuruan dan membangun kekuatan yang semakin besar. Di sana, ia memimpin rakyat, memperkuat pertahanan, dan mendirikan wilayah otonom yang bebas dari VOC.
Akhir hayat Surapati terjadi pada 1706, dalam pengepungan besar VOC di Bangil. Ia terluka parah, namun tetap bertahan sampai napas terakhir. Meski gugur, perlawanan yang ia bangun tidak padam. Keturunannya bahkan memimpin Pasuruan dan terus melawan VOC selama bertahun-tahun.
Kisah Untung Surapati adalah kisah tentang harga diri, keberanian, dan tekad untuk melawan ketidakadilan. Dari seorang budak yang tidak punya apa-apa, ia tumbuh menjadi tokoh yang membuat VOC ketakutan. Seorang pria yang membuktikan bahwa kebebasan adalah hak setiap manusia—dan bahwa tidak ada kekuatan penjajah yang bisa memadamkan semangat perlawanan.