Kisah Patih Gajah Mada — Sumpitan Besar Dari Majapahit

Ilustrasi ini merupakan representasi digital berbasis data sejarah.

Kisah Patih Gajah Mada — Sumpitan Besar Dari Majapahit

1299 M - 1364 M
Nasional  FiguresList.org

Di tengah masa kejayaan Kerajaan Majapahit pada abad ke-14, berdirilah seorang tokoh yang kelak namanya menggema hingga ratusan tahun kemudian—Gajah Mada, patih yang bukan hanya ahli strategi, tetapi juga simbol tekad yang tak tergoyahkan. Tidak banyak yang tahu bahwa sebelum menjadi patih terbesar, Gajah Mada hanyalah seorang prajurit muda tanpa gelar bangsawan. Ia naik melalui keberanian, kesetiaan, dan kecerdasannya.

Awal mula kejayaan Gajah Mada terjadi saat pemberontakan Ra Kuti. Di saat banyak pejabat Majapahit memilih lari atau menyerah, Gajah Mada justru tampil sebagai pengawal yang tetap berdiri. Ia membawa Raja Jayanegara keluar dari kericuhan, menyembunyikannya, dan menjaga keselamatannya dengan nyawa. Dari sinilah namanya mulai dikenal: seorang prajurit yang berani menantang badai.

Ketika Tribhuwana Tunggadewi naik tahta, Gajah Mada mulai menapaki perjalanan besarnya. Selama berperang melawan pemberontakan Sadeng, ia menunjukkan strategi yang luar biasa. Menaklukkan musuh tanpa harus mengorbankan banyak prajurit—itulah tanda bahwa ia bukan hanya ahli perang, tetapi juga ahli membaca hati lawan.

Lalu tibalah momen yang mengubah sejarah Nusantara: Sumpah Palapa. Di hadapan para bangsawan Majapahit, ia bersumpah tidak akan hidup nyaman—tidak akan menikmati “palapa”—sebelum seluruh Nusantara berada di bawah panji Majapahit. Banyak yang meremehkan. “Bagaimana mungkin seorang patih menyatukan wilayah yang luas, dari Sumatera sampai Maluku?” Namun Gajah Mada tidak gentar.

Dari Bali, Lombok, Sunda Kecil, hingga sebagian Kalimantan, armada dan pasukannya bergerak. Diplomasi, strategi laut, hingga persekutuan cerdas ia gunakan. Satu per satu wilayah tunduk di bawah kekuasaan Majapahit. Nusantara tidak pernah bersatu sebesar itu sebelumnya.

Namun perjalanan sang patih tidak selalu mulus. Peristiwa Bubat menjadi luka besar dalam sejarahnya. Rencana politik antara Majapahit dan Pajajaran berakhir tragis, dan banyak orang menilai bahwa keputusan Gajah Mada terlalu keras. Sejak saat itu, ia mulai menarik diri dari pusat kekuasaan. Meski begitu, kejayaannya tak bisa dihapuskan. Ia menjadi simbol persatuan—baik dipuji maupun dikritik, namanya tetap megah dalam sejarah Indonesia.

Menjelang akhir hidupnya, Gajah Mada tidak mencari kekayaan atau gelar. Ia hidup sederhana, seperti prajurit yang tidak pernah lupa dari mana ia berasal. Ketika ia wafat, istilah “tan hana dharma mangrwa”—tidak ada kebenaran yang mendua—menjadi warisan moralnya. Prinsip bahwa seorang pemimpin harus tegak, tidak goyah, dan tidak memihak demi kepentingan pribadi.

Hingga kini, Gajah Mada diingat sebagai patih yang membangun impian terbesar Nusantara. Tekadnya melampaui zamannya, melampaui raja, bahkan melampaui Majapahit itu sendiri. Ia mengajarkan bahwa cita-cita besar memang membutuhkan keberanian yang tidak semua orang mampu memikul.

#majapahit #gajahmada