Pakubuwono X: Raja Jawa di Persimpangan Tradisi dan Modernitas

Ilustrasi ini merupakan representasi digital berbasis data sejarah.

Pakubuwono X: Raja Jawa di Persimpangan Tradisi dan Modernitas

1866 - 1939
Nasional  FiguresList.org

Sri Susuhunan Pakubuwono X merupakan salah satu raja paling berpengaruh dalam sejarah Kasunanan Surakarta. Ia lahir dengan nama Gusti Raden Mas Sayyidin Malikul Kusna pada 29 November 1866 dan naik takhta sebagai Susuhunan Surakarta pada tahun 1893, menggantikan Pakubuwono IX. Masa pemerintahannya berlangsung sangat lama, hingga wafatnya pada tahun 1939, dan menjadikannya simbol stabilitas politik Jawa di bawah bayang-bayang kekuasaan kolonial Belanda.

Sebagai raja, Pakubuwono X dikenal mampu menjaga wibawa keraton sekaligus menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Ia memerintah pada masa ketika Hindia Belanda tengah memasuki fase modernisasi, ditandai dengan berkembangnya transportasi, pendidikan Barat, dan administrasi kolonial. Dalam situasi tersebut, Pakubuwono X mengambil posisi kompromistis: tidak melakukan perlawanan terbuka terhadap Belanda, namun berusaha mempertahankan martabat dan peran budaya Keraton Surakarta.

Di bidang pemerintahan dan sosial, Pakubuwono X memberikan perhatian besar pada pendidikan dan kesejahteraan rakyat. Ia mendukung pendirian sekolah-sekolah modern serta membuka ruang bagi kaum priyayi Jawa untuk memperoleh pendidikan Barat. Langkah ini melahirkan generasi terdidik yang kelak berperan penting dalam pergerakan nasional Indonesia. Keraton Surakarta pada masa itu juga menjadi pusat kebudayaan Jawa yang aktif, tempat seni tari, karawitan, sastra, dan adat istiadat keraton terus dikembangkan.

Pakubuwono X juga dikenal memiliki hubungan yang cukup dekat dengan tokoh-tokoh awal pergerakan nasional. Ia memberikan simpati terhadap organisasi seperti Budi Utomo, yang berdiri pada tahun 1908, dan memandang kebangkitan kesadaran nasional sebagai bagian dari upaya memajukan martabat bangsa. Meskipun ruang geraknya dibatasi oleh sistem kolonial, sikap politiknya yang hati-hati memungkinkan keraton tetap bertahan sebagai institusi penting di Jawa.

Dalam kehidupan pribadi dan simbol kekuasaan, Pakubuwono X sering digambarkan sebagai raja yang berwibawa dan modern. Ia kerap tampil dengan busana kebesaran lengkap dengan berbagai tanda jasa, mencerminkan posisinya sebagai penguasa tradisional yang diakui oleh pemerintah kolonial. Di sisi lain, ia tetap memegang teguh nilai-nilai spiritual dan adat Jawa, yang menjadi dasar legitimasi kekuasaannya di mata rakyat.

Sri Susuhunan Pakubuwono X wafat pada 22 Februari 1939 dan dimakamkan di Imogiri, kompleks pemakaman raja-raja Mataram. Warisannya tidak hanya berupa kesinambungan Keraton Surakarta, tetapi juga peran penting dalam menjaga identitas budaya Jawa di tengah tekanan kolonial dan arus modernitas. Hingga kini, Pakubuwono X dikenang sebagai raja yang berhasil menempatkan tradisi dan perubahan dalam satu keseimbangan yang sulit, namun menentukan arah sejarah Jawa pada awal abad ke-20. Sumber-sumber sejarah, termasuk catatan pemerintah Hindia Belanda, menempatkan Pakubuwono X sebagai figur kunci dalam transformasi peran raja Jawa. Ia tidak hanya dipandang sebagai penguasa simbolik, tetapi juga sebagai pelindung kebudayaan dan penyangga stabilitas sosial. Dengan kebijakan yang cenderung moderat, ia mampu meredam gejolak internal keraton dan menjaga hubungan diplomatis dengan kolonial, sambil tetap memberi ruang bagi tumbuhnya kesadaran kebangsaan di kalangan elite Jawa. Peran tersebut membuat namanya sering disebut dalam kajian sejarah Indonesia sebagai contoh kepemimpinan tradisional yang adaptif. Kepemimpinannya menunjukkan bahwa kekuasaan budaya dapat bertahan dan berpengaruh, bahkan ketika kedaulatan politik berada di tangan pihak asing. Pandangan ini memperkuat posisinya sebagai salah satu raja Jawa paling penting pada masa kolonial.