Ilustrasi ini merupakan representasi digital berbasis data sejarah.
Salahuddin al-Ayyubi: Sang Penakluk Yerusalem yang Dicintai Kawan dan Lawan
Salahuddin al-Ayyubi, atau Saladin dalam literatur Barat, adalah sosok panglima Islam yang namanya abadi dalam sejarah sebagai simbol keberanian, keadilan, dan kepemimpinan yang luar biasa. Ia lahir pada tahun 1137 di Tikrit, Mesopotamia (kini Irak), dari keluarga Kurdi yang taat beragama. Nama aslinya adalah Yusuf bin Najmuddin Ayyub, dan ia kelak menjadi pendiri Dinasti Ayyubiyah yang menguasai Mesir, Suriah, Hijaz, Yaman, dan sebagian Irak.
Salahuddin memulai karier militernya di bawah pamannya, Asaduddin Syirkuh, seorang jenderal Dinasti Zengid. Setelah Syirkuh wafat, Salahuddin diangkat sebagai wazir oleh Khalifah Fatimiyah di Mesir. Namun, ia segera menghapus kekhalifahan Syiah Fatimiyah dan mengembalikan Mesir ke dalam kekuasaan Sunni di bawah nama Khalifah Abbasiyah.
Pada tahun 1174, setelah kematian Nuruddin Zengi, Salahuddin mengambil alih kekuasaan di Suriah dan menyatukan wilayah-wilayah Islam yang tercerai-berai. Ia dikenal sebagai pemimpin yang cerdas, sabar, dan sangat religius. Ia membangun kekuatan militer dan politik yang solid, mempersiapkan diri menghadapi ancaman besar dari Eropa: Perang Salib.
Puncak kejayaan Salahuddin terjadi pada tahun 1187, ketika ia memimpin pasukan Muslim dalam Pertempuran Hattin melawan pasukan Salib yang dipimpin Raja Guy de Lusignan. Kemenangan telak ini membuka jalan bagi Salahuddin untuk merebut Yerusalem, kota suci yang telah berada di tangan pasukan Salib selama hampir 90 tahun.
Namun, yang membuat dunia terkesima bukan hanya kemenangan militernya, melainkan sikapnya setelah penaklukan. Tidak seperti penaklukan Yerusalem oleh pasukan Salib yang penuh pembantaian, Salahuddin menunjukkan belas kasih luar biasa. Ia membebaskan banyak tawanan, melindungi warga sipil, dan memberi kesempatan kepada umat Kristen untuk meninggalkan kota dengan aman. Sikap ini membuatnya dihormati bahkan oleh musuh-musuhnya di Eropa.
Ketika Eropa melancarkan Perang Salib Ketiga, Salahuddin berhadapan dengan Raja Richard I dari Inggris, yang dikenal sebagai Richard the Lionheart. Meski keduanya bertempur sengit, hubungan mereka dipenuhi rasa saling hormat. Salahuddin bahkan pernah mengirimkan dokter pribadi dan buah-buahan kepada Richard saat sang raja sakit.
Meski tidak berhasil merebut kembali Yerusalem, Richard dan Salahuddin akhirnya menandatangani perjanjian damai pada tahun 1192. Perjanjian ini mengizinkan umat Kristen untuk berziarah ke Yerusalem tanpa gangguan, sementara kota tetap berada di bawah kendali Muslim.
Salahuddin wafat pada 4 Maret 1193 di Damaskus. Ironisnya, meski menguasai wilayah luas dan menjadi salah satu pemimpin paling berpengaruh, ia meninggal dalam keadaan miskin. Hartanya telah habis untuk membiayai perang dan amal. Ia dimakamkan di Masjid Umayyah, Damaskus.
Warisan Salahuddin bukan hanya soal kemenangan militer, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan kepemimpinan yang adil. Ia dikenang sebagai pemimpin yang mengutamakan persatuan umat Islam dan menjunjung tinggi nilai moral dalam peperangan.