Ilustrasi ini merupakan representasi digital berbasis data sejarah.
Sultan Ageng Tirtayasa – Raja Yang Menantang VOC Sampai Nafas Terakhir
Dalam sejarah Nusantara, ada satu nama yang berdiri tegak sebagai simbol perlawanan, kejernihan visi, dan keberanian seorang pemimpin sejati: Sultan Ageng Tirtayasa, raja besar Kesultanan Banten pada abad ke-17. Di masa ketika VOC mulai memperluas cengkeramannya di Nusantara, Sultan Ageng muncul sebagai sosok yang menolak tunduk, menolak diatur, dan memilih berdiri sebagai benteng terakhir kedaulatan Banten.
Pada masa pemerintahannya (1651–1682), Banten berada di puncak kejayaan. Pelabuhannya menjadi tempat singgah kapal-kapal dari Arab, Persia, India, hingga Cina. Rakyat hidup makmur, perdagangan meriah, dan Banten berdiri sebagai salah satu kerajaan maritim terkuat di Asia Tenggara. Namun di balik gemerlap itu, VOC melihat Banten sebagai ancaman besar yang harus dihancurkan.
Sultan Ageng tahu betul bahaya itu. Ia memperkuat armada laut, membangun benteng, membuka hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan Islam, bahkan mengirim utusan ke Makassar dan Mataram. Baginya, Banten harus berdiri bebas dari monopoli Belanda, tanpa belenggu, tanpa paksaan.
Titik balik terjadi ketika VOC mulai mengincar Banten dari dalam. Mereka memanfaatkan perpecahan keluarga kerajaan. Putra Sultan Ageng, Pangeran Haji, yang lebih condong ke VOC, menjadi alat politik Belanda. Konflik ayah dan anak pun meletus menjadi perang saudara terbesar dalam sejarah Banten.
Meski dikhianati darah dagingnya sendiri, Sultan Ageng tidak menyerah. Ia memimpin langsung pasukan dari pedalaman, dari desa-desa, dari rakyat yang setia padanya. Ia bergerak berpindah-pindah, membangun basis perlawanan, dan terus menjadi simbol harapan rakyat Banten.
Namun kekuatan VOC terlalu besar. Pada 1683, Sultan Ageng ditangkap dengan tipu muslihat saat sedang terluka. Beliau dibawa ke Batavia dan dipenjara di benteng Belanda. Selama bertahun-tahun, raja besar itu dikurung, tetapi semangatnya tak pernah mati. Ia tetap menjadi lambang perlawanan Banten, bahkan sampai hari kematiannya di penjara pada tahun 1692.
Yang membuat kisah Sultan Ageng Tirtayasa begitu membekas adalah pilihan hidupnya: ia bisa saja bersahabat dengan VOC seperti banyak penguasa lain. Ia bisa menikmati kenyamanan istana. Tetapi ia memilih melawan karena tahu kebebasan tidak boleh dibeli, kedaulatan tidak boleh ditawar, dan kehormatan tidak bisa dijual.
Nama “Tirtayasa” sendiri bukan sekadar gelar. Itu adalah wilayah yang ia bangun sebagai pusat pertanian, irigasi, dan kemakmuran rakyat. Ia bukan hanya raja yang berperang, tetapi raja yang mensejahterakan. Warisannya bukan hanya kisah perlawanan, tapi juga sistem irigasi, peradaban, dan martabat bangsa.
Hari ini, kisah Sultan Ageng Tirtayasa adalah pengingat bahwa sejarah Indonesia tidak dibangun oleh mereka yang tunduk, melainkan oleh mereka yang berani berdiri ketika yang lain memilih diam. Beliau adalah bukti bahwa pemimpin sejati tidak diukur dari singgasana, tetapi dari keberanian mempertahankan rakyatnya.
Sultan Ageng Tirtayasa bukan sekadar tokoh masa lalu. Ia adalah semangat yang mengalir di setiap jiwa yang mencintai kemerdekaan.